Arah dan Kebijakan MPK Tahun 2020

Menuju tahun 2020, MPK akan berusia 70 tahun.

Sebuah usia yang tidaklah muda dan tentunya banyak hal yang dituntut untuk dipertanggung jawabkan kepada Allah yang sudah menyediakan wadah ini dan kepada yayasan/badan penyelenggara pendidikan Kristen anggotanya dan tentunya harapan dari anak didik dari sekolah-sekolah Kristen yang diselenggarakan oleh yayasan/badan penyelenggara pendidikan Kristen anggota MPK, apakah sudah diselenggarakan dengan baik dan benar sesuai misi mula-mula.
Persaingan global yang semakin kompetitif ditambah era disrupsi yang semakin tajam seharusnya membuat MPK/W beserta yayasan/badan penyelenggara pendidikan Kristen anggota berpikir lebih kreatif untuk mampu menyelenggarakan pendidikan Kristen di sekolah-sekolah Kristen di Indonesia yang majemuk dan beragam suku, agama, ras dan antar golongan. Selain itu tantangan sektarianisme yang semakin mengemuka harus menjadi perhatian tersendiri. Sehubungan dengan hal itu kita perlu mendukung Pemerintah dalam upaya meningkatkan rasa nasionalisme dan kebangsaan untuk menghadapi intoleransi dan radikalisme. Dengan memperhatikan disrupsi teknologi, intoleransi dan radikalisme maka arah pendidikan yang kita selenggarakan harusnya bersifat holistik tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi tapi juga mengembangkan budaya, seni dan local wisdom untuk menangkal intoleransi serta pendidikan karakter mulia untuk menghadapi radikalisme. Karena itu kita perlu KOLABORASI untuk saling menguatkan dan menajamkan bukannya jalan sendiri sendiri, seperti pepatah mengatakan,” bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.
Memang untuk kolaborasi diperlukan kebesaran hati yang tidak selalu memikirkan diri sendiri atau sekolah sendiri karena kita bukan untuk membangun kerajaan sendiri jadi bukan untuk mematikan sekolah lain tapi untuk memperluas akses supaya anak bangsa dapat memperoleh pendidikan yang berkualitas dan berkarakter yang merata bukan hanya untuk mereka yang di kota besar atau mereka yang kaya tapi justru buat mereka yang di daerah dan yang miskin yang sangat memerlukan, ‘Education for all’
Mengapa kolaborasi diperlukan karena kita butuh berpikir ‘out of the box’ yang tentunya membutuhkan orang lain diluar kita sehingga kita tidak melakukan pendidikan seadanya dan semaunya tapi mampu mempersiapkan anak didik menjawab tantangan hidup mereka di masa depan, kita bisa mendidik mereka untuk masa depan bukan hanya di masa kini atau malah di masa lampau.
Dengan anggota 363 yayasan serta 6000-an sekolah sekolahnya, Tuhan telah melimpahkan kita dengan berbagai resources dan network karena itu sangat disayangkan kalau kita tidak memanfaatkan sebaik baiknya malah mencoba berjuang sendiri dan membiarkan satu persatu mati sendiri.
Karena itu, marilah kita berkolaborasi lebih serius lagi untuk mampu berkompetisi baik secara nasional dan global demi untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter bagi anak bangsa dalam membangun Generasi Emas Indonesia.
Dengan menghilangkan tembok-tembok pemisah diantara kita seperti ego dan kepentingan diri sendiri dengan mengutamakan kepentingan orang lain juga.
“… dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri ,tapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:4)

(disampaikan oleh Ketua Umum MPK pada Rakernas/SPP III MPK-2019)

Comments