Refleksi Natal Tahun 2016 – MPK

Yang terhormat,
1. Pengurus Yayasan/Badan Penyelenggara Pendidikan Kristen
2. Pengurus MPKW
di Seluruh Indoesia

Salam sejahtera,
Berikut adalah naskah Refleksi Natal Pengurus Harian MPK Tahun 2016.
Kami berharap Refleksi Natal ini menjadi perhatian kita bersama, bahkan jika memungkinkan bisa dibacakan saat ibadah natal di sekolah atau di yayasan.

Terima kasih.

———————————————————————————————————————————————————————————————————-

REFLEKSI NATAL

PENGURUS HARIAN

MAJELIS PENDIDIKAN KRISTEN DI INDONESIA (MPK)

TAHUN 2016

“Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang orang kepunyaanNya itu tidak menerima-Nya”. (Yohanes 1:11)

Rekan-rekan sepelayanan dalam dunia pendidikan Kristen,

Di penghujung tahun 2016 ini kita diperhadapkan banyak peristiwa yang menggoncang sendi-sendi kita dalam berbangsa dan bernegara di bumi tercinta kita ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Apa yang salah di dalam kita hidup bersama ini setelah 71 tahun bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan bhinneka tunggal ika-nya? Apakah kita tidak lagi menghargai perjuangan para Founding Fathers kita yang telah mengorbankan banyak hal untuk membangun bangsa Indonesia ini dengan ke-bhinneka-annya dalam berbagai aspek; Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA) yang beraneka ragam seharusnya menjadi KEKAYAAN  dari bangsa Indonesia. Namun, sekarang ini menjadi permainan oleh segelintir orang (oknum) untuk mencapai tujuannya dan yang celakanya diikuti oleh kebanyakan orang.

Di manakah peran pendidikan dalam membangun bangsa ini, bukankah ada banyak contoh bahwa pendidikan yang baik pasti membawa bangsanya lebih maju, berpikiran luas dan berkembang, adakah yang salah dalam pendidikan kita?

Adakah peran dan kontribusi  kita sebagai umat Kristen di bumi Indonesia ini, yang sering dikecilkan sebagai minoritas? Apakah kita malah memperkeruh konflik yang ada dengan mengajar dan mendidik anak-anak kita dengan radikalisme agama?

Indonesia saat ini mendapatkan bonus demografi dengan angkatan muda yang produktif sedemikian banyaknya, apakah kita akan menuai demografi disaster karena kita SALAH dalam mendidik mereka dengan pendidikan Kristen yang kita lakukan di sekolah sekolah Kristen yang kita selenggarakan?

Akankah kita mengajar dan mendidik mereka hanya menekankan agama Kristen sebagai pengetahuan saja sehingga mereka tidak sampai kepada Tuhan yang seharusnya mereka sembah dan yang seharusnya mengarahkan hidup mereka dalam bermasyarakat sesuai kehendak-Nya sehingga tidak terjerumus dalam radikalisme agama.

Mungkinkah kehendak Tuhan yang Maha Kasih, Maha Baik mendorong kita untuk berbuat jahat terhadap mahkluk ciptaan-Nya yang sekalipun berbeda dari kita?  Pasti ada ketidak-tepatan kalau anak-anak kita bisa berbuat tidak seperti kehendak-Nya, kita sedang salah mengajar dan mendidik anak-anak kita bukan cuma belajar agama Kristen tapi mereka harus sampai bertemu Tuhan Allah yang seharusnya menjadi Junjungan hidupnya.

Natal, menjadi peristiwa yang sangat berharga karena di sanalah Tuhan Allah mengambil inisiatif untuk menemui umat-Nya di dalam diri Tuhan Yesus Kristus,  Sang Pengantara (jalan kebenaran dan hidup), karena manusia tidak mampu berusaha dengan kemampuannya sendiri untuk bertemu dengan-Nya. Natal, memungkinkan kita dan anak-anak kita bertemu dan berdamai dengan Tuhan Allah sehingga mereka bisa berdamai dengan dirinya dan pada akhirnya mampu menjadi pembawa damai.

Kita harus membawa anak didik kita kepada Allah bukan cuma pada pelajaran agama dan pelajaran akademik saja sehingga mereka dijauhkan untuk berbuat jahat kepada sesamanya tapi mampu menghadirkan syaloom damai sejahtera Allah di lingkungan di mana Tuhan tempatkan mereka.

Selamat merayakan Natal,kiranya kita dapat membawa damai Natal dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara di bumi Indonesia ini. Amin.

Salam pendidikan!

natal-2

Jika Anda menginginkan versi pdf dari refleksi ini, Anda dapat mengunduhnya melalui link di bawah ini:

refleksi-natal-2016-mpk

0
Berita

Comments