Yang Baru dalam Ujian Nasional 2016

Ditegaskan kembali oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan bahwa ujian nasional bukan lagi penentu kelulusan. “Kelulusan dikembalikan sepenuhnya kepada sekolah,” pungkasnya dalam wawancara bersama Tempo.

Selain itu, ada beberapa hal baru pada ujian nasional 2016. Apa saja?

Pekan ini siswa sekolah menengah atas melaksanakan ujian nasional.
Kemendikbud meneruskan dan memperkuat berbagai perubahan yang telah digagas sejak tahun lalu. Semisal, UN dikembalikan pada fungsi pemetaan dan sudah tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Sedangkan kelulusan dikembalikan sepenuhnya kepada sekolah.

Pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) yang melonjak sangat  signifikan pada tahun ini. Kita dapat melihat, tahun lalu penerapan terbatas di 500 sekolah dan 107 ribu siswa, tahun ini menjadi 4.400 sekolah dan 921 ribu siswa di seluruh Indonesia. Meningkat 900 persen. Yogyakarta adalah provinsi dengan penerapan UNBK terbesar. Sementara Surabaya menerapkannya di 100 persen sekolahnya. Selain itu, kami menerapkan indeks integritas ujian nasional (IIUN) sebagai pendamping nilai UN.

Apakah Indeks Integritas ini?
Indeks yang digunakan untuk mengukur pola kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan UN di sekolah. Sejak tahun lalu, kami juga menginisiasi ujian nasional berbasis komputer, dengan tujuan jangka panjang membuat UN lebih fleksibel sekaligus lebih andal, baik dari sisi pelaksanaan maupun dari sisi soal.

Apa dasar penerapan IIUN?
Desas desus bahwa pelaksanaan UN dikotori dengan kecurangan, dan masalah bangsa yaitu integritas. Sudah saatnya kita berhenti mendiamkan kecurangan di dunia pendidikan. Dulu rakyat melapor ada kecurangan. Sekarang kita lakukan revolusi mental: negara yang melapor kepada publik tentang kejujuran dan kecurangan dalam UN.

Bagaimana teknisnya?
IIUN adalah teknik analisis data yang menggunakan algoritma statistik untuk mendeteksi pola kecurangan pada jawaban ujian. Di dunia akademik, alat semacam ini sudah umum digunakan dan dikembangkan, bahkan sejak 1970-an. Yang terpenting untuk kita ingat adalah prestasi penting, tapi jujur yang utama.

UN diposisikan sebagai pemetaan. Apa tindak lanjutnya?
Untuk memperkuat fungsi UN sebagai pemetaan, sejak tahun lalu kami sudah memperkaya surat keterangan hasil UN serta laporan UN kepada siswa, sekolah, dan daerah. Laporan UN berisi informasi lebih dalam di balik sekadar nilai, di antaranya pada bagian apa saja siswa dan sekolah telah memenuhi standar kompetensi yang diharapkan dan pada bagian mana yang belum, bahkan sampai tingkat topik di dalam mata pelajaran.

Bagaimana data itu digunakan?
Laporan ini seharusnya bisa dimanfaatkan sekolah dan daerah, digabungkan dengan berbagai pemetaan lain, sebagai bahan untuk menyusun strategi peningkatan mutu layanan. Di Kementerian juga melakukannya dengan menganalisis hasil UN terhadap berbagai pemetaan lain, seperti delapan standar nasional pendidikan, untuk bahan perbaikan ke depan. Hasilnya, nilai UN paling berkorelasi dengan standar pendidik dan tenaga kependidikan. Jadi betul ungkapan bahwa guru adalah kunci.

(sumber : tempo)

0
Berita

Comments