The spirit of humility and self-denial


The spirit of humility and self-denial precedes a deeper and closer walk with God – Luke 9:18-27.
Hubungan yang intim dan mendalam bersama Allah dimulai dengan sifat rendah hati dan menyangkal diri – Lukas 9:18-27.

“In whatever a man does without God, he must fail miserably—or succeed more miserably,” wrote George MacDonald (1824–1905), a Scottish novelist, poet, and Christian minister. This intriguing statement is often cited by modern speakers and writers and appears in MacDonald’s book Unspoken Sermons.

Dalam apa pun yang dilakukan manusia tanpa melibatkan Allah, ia pasti gagal dengan menyedihkan—atau meraih sukses dengan lebih menyedihkan,” tulis George MacDonald (1824-1905), seorang penyair, penulis novel, dan pendeta asal Skotlandia. Pernyataan menarik ini seringkali dikutip oleh para pembicara dan penulis modern dan terdapat dalam buku karya MacDonald yang berjudul Unspoken Sermons (Khotbah yang Tak Terucapkan).

MacDonald was dealing with the difficult subject of a Christian’s self-denial and how we are to apply this teaching of Jesus: “If anyone desires to come after Me, let him deny himself, and take up his cross daily, and follow Me. For whoever desires to save his life will lose it, but whoever loses his life for My sake will save it” (Luke 9:23-24).

MacDonald sedang membicarakan suatu topik yang sulit tentang penyangkalan diri seorang Kristen dan bagaimana kita dapat menerapkan pengajaran Yesus ini: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 9:23-24).

Rather than merely trying to suppress our natural desires, MacDonald said that true self-denial means “we must see things as [Christ] saw them, regard them as He regarded them; we must take the will of God as the very life of our being . . . . We are no more to think, ‘What should I like to do?’ but ‘What would the Living One have me do?’”

Menurut MacDonald, penyangkalan diri bukan hanya berupaya memendam hasrat manusiawi kita, tetapi penyangkalan diri yang benar berarti “kita harus melihat segala sesuatu seperti [Kristus] melihatnya, memandang segala sesuatu sebagaimana Dia memandangnya; kita harus menghayati kehendak Allah sebagai jati diri kita . . . . Kita tak lagi berpikir, ‘Apakah yang ingin kulakukan?’ melainkan ‘Apakah yang dikehendaki oleh Allah yang Hidup itu untuk kulakukan?’”

Getting only what we want is succeeding miserably. True success is found in “losing” our lives for Jesus’ sake and finding them again full and free in His will – DCMC.
Memperoleh hanya apa yang kita inginkan berarti meraih sukses yang menyedihkan. Kesuksesan yang sejati didapatkan dengan jalan menyerahkan hidup kita pada Yesus dan menjalani hidup itu sepenuhnya dalam kehendak-Nya — DCMC.
Blessed Saturday & Jesus bless you.🙏📖

Disusun oleh: Anastasia H. Djena, M.Miss. (Bidang 4: …)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.