UKI bekerjasama dengan MPK dan PISKA menggelar seminar bertajuk “Pancasila dan Ke-Indonesian Kita”

Gambar/Ilustrasi: www.majalahgaharu.com

JAKARTA – MPK INDONESIA | Pada hari Selasa, 12 Juli 2022 Program Doktoral Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI), Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia, dan Persekutuan Intelegensia Sinar Kasih (PISKA) mengadakan seminar secara daring bertajuk “Pancasila dan Ke-Indonesian Kita”. Seminar ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila pada 1 Juni.

Seminar ini dibuka dengan opening Speech dari Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., MBA selaku rector UKI, DR, Drs. Jopie J.A Rory S.H, M.H. selaku sekretaris umum MPK, Prof. Dr. Mompang L. Panggabean, S.H., M.Hum, selaku ketua umum PISKA. Yang kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dari pada narasumber diantaranya, Dr. Aartje Tehupeiory S.H,M.H selaku Ketua V kebijakan Pendidikan Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia, Prof. Dr. John Pieris S.H, M.S, yang merupakan Kaprodi Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI), Prof. Dr. H. Ermaya Suryadinata S.H,M.H, M.S, Dr. Nelson Simanjuntak S.H, M.Si, selaku Kepala Pusat Fasilitas dan Kerja Sama Sekretariat Jenderal Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Fasker Sekjen Kemendagri).

Dalam kesempatan ini Dr. Aartje Tehupeiory menyampaikan pandangannya bahwa pendidikan agama itu penting untuk memberikan pengetahuan serta membentuk sikap dan kepribadian serta keterampilan para pembelajar baik dalam kehidupan personal, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Menurutnya, pendidikan Kristen bertujuan menolong mereka yang ingin memahami karya Tuhan pada ciptaannya dan juga membangun kehidupan peserta didik dalam konteks kekristenan.

Dr. Aartje juga menyampaikan bahwa, pendidikan kebangsaan Indonesia dimana Pancasila sebagai landasannya harus dapat menumbuhkan sikap toleransi serta memperkuat dan menghayati Pendidikan Kristen di Indonesia yang kemudian secara teologis oleh Pendidikan Kristen dimana nilai-nilai Pancasila membentuk dan karakteristik pemikiran bangsa yang orisinil, memiliki moral, integritas serta professional.

Diakhir kesempatan tak lupa Dr. Aartje juga mengingatkan bahwa dalam konteks kebangsaan Indonesia, pendidikan Kristen harus bersifat inklusif, nasionalis, dialogis serta mampu menghargai perbedaan baik budaya, ras, etnis maupun antar agama. Para pendidik juga diharapkan dapat melakukan proses-proses pembelajaran yang dinamis agar para siswa yang mereka didik dapat mencintai dan menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. 

Anda dapat menyaksikan rekaman seminarnya disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.